Di Indonesia, masyarakat muslim umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan seperti pembacaan shalawat Nabi, Barazanji dan juga Pengajian. Tentu saja perayaan ini bertujuan agar ummat muslim semakin bertambah rindu dan meneladani sikap dan perilaku Rasulullah saw. Peringatan Maulid berbagai daerah di Indonesia tersebut, memiliki keunikan tersendiri, misalnya

3b0f6497-9a9a-4873-84d9-120427214468_169ilustrasi

Jeneponto Sulawesia Selatan

Di Desa Barana, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto, tradisi memperingati Maulid Nabi, dengan menghiasi miniatur rumah dengan telur warna warni, sejumlah hasil pertanian, dan kain sarung kemudian diarak ke Masjid untuk dimakan bersama

Bone Sulawesi Selatan

Di daerah pesisir Kabupaten Bone, warga membuat miniatur perahu Phinisi untuk dibawa tempat perayaan Maulid. Ada juga yang membuat miniatur rumah adat dengan segala pernak perniknya. Selain miniatur tersebut, warga juga biasanya menyumbang belasan butir telur untuk diperebutkan. Telur telur ini ditata sedemikian rupa di ujung bambu kemudian ditancapkan di batang pohon pisang yang telah disiapkan. Sesampai di Masjid, panitia biasanya menyatukan sumbangan warga tersebut. Biasanya, hiasan kaddominyak yang paling bagus diserahkan kepada toko masyarakat yang membawakan hikma Maulid. Acara Maulid biasanya diakhiri dengan berebut telur oleh jamaah Maulid yang telah disiapkan oleh panitia. Di beberapa acara Maulid, sebelum acara berakhir, telur – telur rebutan ini sudah habis duluan diserbu oleh para jamaah.

Cikoang, Sulawesi Selatan

Ada juga perayaan di daerah di Cikoang, yang disebut dengan Maudu Lompoa, merupakan perpaduan dari unsur antraksi budaya dengan ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di Bulan Rabul Awal berdasarkan Kalender Hjiriyah. Pada hari H masyarakat Cikoang yang berpakaian adat berjalan beriringan sambil membawakan anyaman dan memikul julung – julung terhias indah dengan kertas male. Julung – julung diperebutkan berisi telur hias, ayam, beras dimasak setengah matang, beras ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya. Agar lebih indah, julung – julung dilengkapi dengan kibaran kain khas Sulawesi warna – warni bak bendera terpasang di atas perahu. Julung – julung diletakkan di depan semua orang.

Yogyakarta

Di Yogyakarta yang biasa disebut Grebeg Maulid, yaitu suatu acara yang diadakan oleh pemerintah kota Yogyakarta, sebuah acara iring iringan gunungan makanan yang di arak menuju Keraton Yogya. Dalam arak arakan ini ditampilkan prajurit keraton Yogyakarta dalam pakaian dan formasi yang lengkap. Acara Sekaten dan Grebeg Maulid ini menjadi agenda rutinan dan diminati oleh masyarakat dalam, hingga luar negeri.

Aceh

Di Kecamatan Panton Ree, Kabupaten Aceh Barat, Nangroe Ace Darussalam, masyarakat melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan melakukan zikir dan do’a bersama dengan cara berdiri dan berlompatan. Tradisi Maulid di Aceh memang berbeda dengan tradisi di daerah lain. Cara unik tersebut ditenggarai sebagai budaya yang diwariskan oleh nenek moyang setempat.

Banjarmasin Kalimantan Selatan

Di Banjarmasin, warga memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw dengan kegiatan Baayun. Baayun Maulid merupakan tradisi muslim di Banjar, Kalimantan selatan di Desa Banua Halat, Tapin (17 km utara Banjarmasin). Baayun Maulid ini selain dihadiri oleh masyarakat sekitar juga dihadiri dari masyarakat dari berbagai derah. Peserta baayun maulid ini terdiri dari segala umur mulai dari balita berumur satu bulan sampai lansia.

Banten

Di Kampung Kemalake, Taktakan, Serang Banten, warga menggelar kegiatan “sedekah Maulid” Sejumlah warga menggotong gunungan (panjang) diarak pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad itu dimeriahkan dengan tradisi Panjang Maulid yaitu mengumpulkan sejumlah makanan seperti beras, mie instan dan kue serta perlengkapan sholat, setelah diarak makanan tersebut dibagikan ke warga miskin.

Cirebon

Panjang Jimat adalah sebuah ritual tradisional yang rutin dan turun temurun di laksanakan di Keraton Cirebon (Kanoman, Kesepuhan, Kecirebonan dan Kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri kesulatanan Cirebon) tiap malam 12 Rabiul Awal atau Maulid, yakni bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw., untuk memperingati hari kelahiran beliau. Sebutan Panjang Jimat sendiri berasal ari dua kata yaitu Panjang yang artinya lestari dan Jimat yang berarti pusaka. Jadi secara etimologi, panjang jimat berarti upaya untuk melestarikan pusaka yang paling berharga milik ummat Islam selaku ummat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat syahadat. Pada puncak malam 12 Rabiul Awal, yang oleh masyarakat Cirebon disebut dengan malam pelanililah di adakan ritual seremonial Panjang Jimat dengan mengarak berbagai macam barang yang sarat akan makna filosofis, diantaranya barisan orang yang mengarak nasij jimat dari Bangsal tujuh rupa atau nasi jimat yang merupakan tempat sultan bertahta ke Masjid atau Mushala keraton, yang memiliki makna filosofis sebagai hari kelahiran Nabi yang suci yang dilambangkan melalui nasi jimat.

(mansur ul hab MM / mimbar as’adiyah)

Facebook Comments