Khutbah Jumat
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.
Jamaah shalat Jumat yang senantiasa dinaungi rahmat Allah,
Di tengah-tengah hidup yang sering riuh dengan urusan dunia, marilah sejenak kita menarik nafas dalam-dalam, lalu mengingat kembali ke mana arah hidup ini hendak akan dibawa.
Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan khatib mengajak kita semua dan diri khatib sendiri yang tak luput dari lalai untuk senantiasa menjaga ketakwaan.
Takwa itu, kata para ulama yang arif dan bijak, adalah menjalankan segala titah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesederhana itu bunyinya, tetapi seluas samudra dalam maknanya.
Ketakwaan bukan hanya ibadah di atas sajadah, tapi juga laku harian: bagaimana kita memperlakukan sesama, bagaimana kita jujur dalam niaga, bagaimana kita menahan lidah dari dusta, dan bagaimana kita tidak menyinggung perasaan makhluk-Nya, sekecil apa pun.
Ketakwaan adalah benih yang ditanam di hati, disiram dengan amal, dan akan dipanen kelak di akhirat. Dan, siapa tahu dari ketakwaan yang kita rawat hari ini, Allah memberi jalan keluar dari masalah-masalah hidup yang terasa buntu; siapa tahu, dari ketakwaan itulah datang pertolongan dan rahmat yang tidak kita sangka-sangka.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah !
Ramadhan kian menepi ke ujungnya. Waktu-waktu yang tersisa bukan hanya sekadar angka di kalender, tetapi karunia yang terlalu berharga untuk disia-siakan.
Sebab di sepuluh hari terakhir ini, Allah membuka pintu-pintu ampunan-Nya, melimpahkan keberkahan-Nya, dan menebarkan rahmat yang tak terkira. Malam-malam yang penuh rahasia itu menunggu kita yang ingin mengetuk pintu langit dengan doa, dengan munajat, dengan i’tikaf yang khusyuk.
Mari, jangan biarkan sepuluh malam terakhir ini lewat begitu saja seperti angin lalu. Marilah kita duduk diam di dalam masjid, bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan hati yang ingin pulang kepada-Nya.
Rasulullah, kekasih Allah yang mulia, selalu menjalani i’tikaf di penghujung Ramadhan. Beliau bukan orang yang sibuk dengan dunia, tetapi tetap merasa perlu untuk menyendiri bersama Tuhannya. Maka, bagaimana dengan kita, yang seringkali tertatih dalam iman, dan tak jarang tergelincir dalam khilaf?
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah.
Dalam sunyi yang merunduk di malam-malam terakhir Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menghadirkan diri untuk i’tikaf – berdiam di masjid, membersihkan hati, menajamkan rasa, menyulam kedekatan dengan Sang Pencipta. Dan beliau melakukannya terus-menerus, hingga tiba saatnya Allah memanggil beliau pulang ke haribaan-Nya.
Bahkan setelah beliau wafat, para istri beliau pun tetap meneruskan kebiasaan mulia itu, seolah ingin menegaskan kepada kita bahwa i’tikaf bukan sekadar amalan, melainkan warisan rohani yang tak boleh putus dari generasi ke generasi. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau pun beri’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah . Hadis ini bukan sekadar rangkaian kata-kata, tetapi cahaya yang menuntun kita. Ia mengingatkan, bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali.
Kesempatan untuk menepi dari riuhnya dunia, untuk menyelami keheningan, dan membiarkan jiwa kita bercakap mesra dengan Allah. Tapi i’tikaf bukan satu-satunya pintu. Masih banyak pintu lain yang dibuka Allah bagi hamba-Nya yang rindu ampunan.
Yaitu qiyamul lail yang dilakukan dengan hati yang basah oleh harap; tilawah Al-Qur’an yang membasuh jiwa dari debu dosa; doa yang lirih di ujung malam; sedekah yang tulus, yang tak mengharap pujian. Semua itu bisa menjadi tangga untuk kita naik ke tempat yang lebih tinggi di hadapan Allah.
Dan jangan lupa, jamaah yang dirahmati, di antara malam-malam itu ada satu malam yang mulia – malam yang bahkan langit pun menunduk hormat: Lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
Lihatlah, betapa luas kasih sayang Allah. Hanya dengan satu malam yang dihidupkan dengan iman dan harap, lautan dosa bisa dikeringkan oleh ampunan-Nya. Malam yang bisa menjadi titik balik hidup kita, malam yang menandai perjalanan baru menuju kebaikan yang lebih tulus dan bersih.
Maka jamaah sekalian, jangan biarkan kesempatan ini berlalu tanpa makna. Jangan biarkan penyesalan menjadi tamu terakhir setelah Ramadhan pergi meninggalkan kita. Mari kita bersungguh-sungguh. Kita ikat hati, kita perbarui niat, kita jalani sisa Ramadhan dengan amal-amal shaleh yang tak kita buat untuk pamer, tapi hanya untuk Allah semata.
Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita untuk mengikuti jejak indah Rasulullah. Semoga Allah memeluk kita dengan ampunan dan merangkul kita dengan rahmat-Nya yang tak berbatas. Dan semoga kita termasuk hamba-hamba yang keluar dari Ramadhan dalam keadaan bersih, kembali fitrah, dan diridhai oleh-Nya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Muh.As’ad Maruwewang