
Jombang, Kediri, Situbondo — Di tengah pesatnya perubahan zaman dan kompleksitas persoalan modern, tradisi keilmuan pesantren terbukti tidak tinggal diam. Tim 2 MORA The Air Funds Ma’had Aly As’adiyah, KM. Marlinda, S.Pd., M.Ag. dan KM. Sri Wahyuni, S.Ag. menyambangi Tiga Ma’had Aly terkemuka di Jawa Timur—Tebuireng, Lirboyo, dan Situbondo. Ketiga Ma’had Aly ini menunjukkan bagaimana kitab kuning sebagai khazanah klasik tetap hidup dan relevan melalui proses kontekstualisasi yang dinamis.

Bagi Ma’had Aly yang selevel dengan perguruan tinggi ini, kontekstualisasi bukan sekadar tren baru, melainkan keniscayaan sejarah. Teks-teks klasik yang lahir pada ruang dan waktu tertentu kini dibaca kembali untuk menjawab persoalan kontemporer tanpa kehilangan pijakan tradisinya.
Ma’had Aly Tebuireng: Melanjutkan Teladan Masyaikh dan Pengabdian Masyarakat
Di Ma’had Aly Tebuireng, tradisi mendudukkan teks klasik dalam konteks zaman sudah diwariskan oleh para masyaikh yang dahulu aktif berjuang dalam politik kebangsaan. Spirit ini kini diterjemahkan secara struktural ke dalam kurikulum pendidikan, diajarkan oleh para dosen, dan dihidupkan oleh mahasantri.
Garda depan kontekstualisasi ini terletak pada forum bahtsul masā’il, sebuah ruang diskusi intensif yang membedah isu-isu hangat dengan paradigma kitab kuning. Tak berhenti di menara gading, para mahasantri juga membawa hasil pemikiran ini langsung ke tengah masyarakat melalui pengajian interaktif dan sesi dialog terbuka.
Ma’had Aly Lirboyo: Dari Ruang Kelas hingga Melahirkan Karya Ilmiah.

Ma’had Aly Lirboyo melihat bahwa kontekstualisasi sebenarnya adalah inti dari tradisi intelektual Islam itu sendiri. Kehadiran kitab-kitab syarḥ (penjelasan) sepanjang sejarah menjadi bukti sahih bahwa para ulama terdahulu selalu memperbarui makna teks sesuai tantangan zamannya.
Di Lirboyo, nalar kritis mahasantri diasah melalui pembekalan ilmu-ilmu pendukung di kelas serta forum bahtsul masā’il. Menariknya, gagasan yang lahir tidak berhenti sebagai wacana lisan. Ma’had Aly Lirboyo aktif mengabadikan pemikiran tersebut ke dalam karya literasi yang dapat diakses publik, seperti buku Fikih Kebangsaan, karya kolaboratif angkatan, hingga artikel digital.
Ma’had Aly Situbondo: Inovasi Digital dan Respon Cepat Isu Sosial
Sementara itu, Ma’had Aly Situbondo menegaskan perannya untuk berada di garis terdepan dalam merespons dinamika keagamaan dan sosial. Inovasi menonjol terlihat dari pemanfaatan teknologi digital melalui layanan berbasis website.
Lewat platform ini, masyarakat luas dapat mengajukan pertanyaan hukum maupun isu sosial-keagamaan secara langsung. Masukan tersebut kemudian dibahas secara mendalam dalam forum bahtsul masā’il. Selain itu, mahasantri didorong untuk memproduksi analisis tertulis yang menautkan teks klasik dengan isu-isu hangat, menjadikan tradisi pesantren semakin dekat dengan kebutuhan publik modern.
Langkah yang diambil oleh Tebuireng, Lirboyo, dan Situbondo membuktikan bahwa kitab kuning bukanlah dokumen statis dari masa lalu. Melalui kombinasi kurikulum yang adaptif, publikasi ilmiah, dan pemanfaatan teknologi digital, Ma’had Aly berhasil menjembatani keagungan tradisi keilmuan Islam dengan realitas kehidupan modern. (Sd)
Memiliki lahan yang potensial untuk pengembangan dan pemusatan pendidikan, khususnya pendidikan berbasis pondok pesantren. Untuk itu, Pondok Pesantren As’adiyah membuka peluang partisipasi umat dalam mendukung cita-cita luhur tersebut melalui Program Wakaf Produktif.
Hubungi Kami
Meriahkan Kemah Baden Powell’s Day 2025, MAS As’adiyah Putri Sengkang Raih Juara Umum
Santri MTs As’adiyah Putri Pusat Sengkang Raih Prestasi dalam Perlombaan Seni se-Kabupaten Wajo
Guru Madrasah Aliyah Putri Sengkang Raih Juara III Lomba Media Pembelajaran Tingkat Nasional
MAS As’adiyah Putri Sengkang Raih Juara 3 Pada Parade Paskibra Sekolah Tingkat SMA/SMK/MA SE-SULAWESI SELATAN di MAN Wajo
MAS As’adiyah Putra Macanang Raih Juara 3 Parade Paskibra Sekabupaten WajoPondok Pesantren As’adiyah
JL. Masjid Raya No. 100 Sengkang 90941, Sulawesi Selatan Kab. Wajo, Indonesia
