Dari Tabayyun hingga Jejak Digital, Santri CLS 2026 Dibekali Etika Bermedia Sosial
Media Center As'adiyah – Santri peserta Class of Leadership Santri (CLS) 2026 MTs. As’adiyah Putra Pusat Sengkang – Macanang mendapatkan pembekalan tentang etika bermedia sosial melalui materi “Internet Positif: Penggunaan Internet secara Sehat, Santri Cerdas, Bijak, dan Berkarakter di Era Digital.”
Materi tersebut disampaikan oleh Hamka, S.Pd.I., Gr., M.Pd. pada hari Kamis, 24 September 2026, bertempat di Masjid MTs. As’adiyah Putra Pusat Sengkang – Macanang. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian CLS 2026 yang berlangsung pada 22–24 September 2026 sebagai latihan dasar kepemimpinan bagi santri.
Dalam materi tersebut, para santri diajak memahami bahwa internet bukan hanya sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber ilmu, pengembangan diri, sarana dakwah, serta media untuk membangun jejaring dan kreativitas. Materi menekankan pentingnya menggunakan internet secara aman, sehat, produktif, dan bertanggung jawab sesuai nilai-nilai agama Islam dan pendidikan.
Hamka menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi santri untuk memperluas wawasan dan meningkatkan keterampilan. Internet dapat digunakan untuk mengakses jurnal, buku elektronik, pustaka kitab, materi pembelajaran, mempelajari bahasa, mengembangkan keterampilan teknologi informasi, hingga menghasilkan konten syiar Islam dan karya edukatif.
Namun, penggunaan internet juga memiliki sejumlah tantangan. Para santri diperkenalkan pada berbagai risiko di ruang digital, antara lain hoaks, cyberbullying, penipuan daring, kecanduan digital, konten negatif, serta penyalahgunaan data dan privasi. Materi juga mengingatkan bahwa penggunaan internet yang berlebihan dapat melalaikan kewajiban belajar dan ibadah.
Salah satu pesan utama dalam pembelajaran tersebut adalah pentingnya tabayyun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Prinsip tersebut dikaitkan dengan QS. Al-Hujurat ayat 6. Santri juga diperkenalkan dengan prinsip qaulan sadidan, yaitu menyampaikan perkataan yang benar dan tepat, termasuk ketika berkomunikasi di media sosial.
Selain tabayyun, para santri dibekali lima prinsip dalam bermedia sosial, yaitu saring sebelum sharing, pikir sebelum posting, jaga adab dan akhlak, lindungi privasi, serta utamakan produktivitas. Prinsip tersebut diarahkan agar santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengguna internet yang bertanggung jawab.
Untuk memperkuat pemahaman, materi juga memberikan panduan praktis untuk mengenali hoaks. Santri diajak membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber dan tanggal, membandingkannya dengan sumber tepercaya, mewaspadai judul atau kalimat provokatif, serta tidak meneruskan informasi apabila masih meragukan.
Aspek keamanan digital juga menjadi bagian penting dalam pembekalan. Santri diingatkan untuk menggunakan kata sandi yang kuat, menjaga kerahasiaan OTP dan kata sandi, mengaktifkan verifikasi dua langkah, serta berhati-hati terhadap tautan yang mencurigakan. Pesan yang ditekankan adalah bahwa data pribadi merupakan amanah yang harus dijaga.
Dalam konteks kepemimpinan, penggunaan internet juga dikaitkan dengan karakter seorang pemimpin santri. Materi menekankan lima karakter pemimpin digital, yaitu amanah, jujur, bijaksana, kreatif, dan peduli. Seorang pemimpin digital diharapkan bertanggung jawab atas setiap kata, foto, dan konten yang diunggah serta mampu menghormati sesama pengguna ruang digital.
Pembelajaran kemudian dilengkapi dengan simulasi interaktif “Think Before You Click!”. Santri diajak mendiskusikan kasus berita viral yang belum terverifikasi dan komentar negatif di media sosial. Melalui diskusi tersebut, peserta diarahkan untuk menerapkan prinsip tabayyun, klarifikasi, kesabaran, dan qaulan sadida dalam menghadapi persoalan di ruang digital.
Pada bagian akhir, para santri diajak membangun komitmen sebagai Santri Digital, yaitu menggunakan internet untuk ilmu dan kebaikan, menjaga adab, privasi dan kehormatan sesama, tidak menyebarkan hoaks dan konten negatif, berpikir sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, serta menjadi teladan pemimpin yang amanah di ruang digital.
Pembekalan tersebut sejalan dengan tujuan CLS 2026 dalam mempersiapkan santri menjadi pemimpin masa depan. Melalui pemahaman tentang etika dan tanggung jawab digital, santri diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas sekaligus tetap menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Materi ditutup dengan deklarasi bersama “Saya Santri As’adiyah!” yang menegaskan komitmen untuk cerdas menggunakan teknologi, bijak bermedia sosial, santun dalam berkomunikasi, amanah dalam berbagi informasi, serta siap menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak mulia.
(Humas MTs. As’adiyah Putra Pusat Sengkang – Macanang)
(editor: nm)


