Menjadi Keluarga Tanpa Kehilangan Profesionalisme

S.H
Editor
Senin, 26 Oktober 2026 | 5x
Menjadi Keluarga Tanpa Kehilangan Profesionalisme Dokumentasi

Penulis :  M. Hasbi (Ketua Umum PC-FKMA As'adiyah Makassar)


Refleksi Pelantikan PC-FKMA As’adiyah Makassar Periode 2026–2027

Pada 24 Oktober 2026, pelantikan PC-FKMA As’adiyah Makassar periode 2026–2027 menjadi titik awal bagi kepengurusan yang baru. Momentum ini dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri melalui dialog santri sebagai ruang pengembangan intelektual sekaligus refleksi terhadap identitas dan tanggung jawab kader. Sumpah jabatan yang telah diucapkan bukan sekadar formalitas, melainkan amanah yang harus dibuktikan melalui kerja nyata. Surat keputusan yang menetapkan setiap posisi juga menegaskan tanggung jawab yang harus dijalankan. Sebab, FKMA As’adiyah Makassar bukan sekadar struktur organisasi, melainkan rumah bagi alumni As’adiyah di Makassar yang harus dirawat dan dijaga keberlangsungannya bersama. 

Ketua umum : M. Hasbi mengingatkan 3 point utama bagi keluarga besar FKMA As'adiyah Makassar.

Pertama, kekeluargaan sebagai fondasi organisasi. Budaya kekeluargaan yang ada di As'adiyah terkhusus FKMA As'adiyah Makassar itu sendiri adalah suatu hal yang ada dari sejak lama. Ini merupakan nilai yang harus terus dilestarikan melalui kepedulian, solidaritas, dan rasa saling percaya. Namun, kekeluargaan bukan berarti menghindari kritik atau menutup mata terhadap kesalahan. Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah, sedangkan kritik seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan dianggap sebagai serangan pribadi. Organisasi harus menjadi ruang bagi setiap kader untuk bertumbuh, baik secara emosional maupun intelektual, tanpa kehilangan keberanian untuk saling mengingatkan demi kebaikan bersama.

Kedua, profesionalisme sebagai prinsip kerja. Kekeluargaan dan profesionalisme bukan dua hal yang bertolak belakang, melainkan harus berjalan beriringan. Kita boleh dekat sebagai keluarga, tetapi tetap harus disiplin dalam menjalankan tugas. Jangan sampai kedekatan menjadi alasan untuk menyepelekan kesalahan atau mengabaikan tanggung jawab. Setiap pengurus perlu memiliki kesadaran terhadap posisi, fungsi, dan kewenangannya. Jabatan bukan ukuran tingginya seseorang di antara yang lain, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab. Keberhasilan kepengurusan pun tidak cukup diukur dari terselesaikannya program kerja, tetapi juga dari kemampuan menyelaraskan langkah, membangun kualitas kader, dan bergerak menuju visi yang sama.

Ketiga, melawan sikap apatis terhadap organisasi. Saya memandang bahwa rasa memiliki terhadap FKMA tidak cukup dibuktikan melalui pengakuan sebagai bagian dari keluarga besar, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan kontribusi nyata. Akan menjadi ironi ketika kita begitu mudah mengkritik keadaan organisasi, tetapi tidak memiliki kemauan untuk terlibat dalam memperbaikinya.  Kritik tanpa kepedulian hanya akan menjadi suara, sedangkan kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan dapat menjadi perubahan. Karena itu, jangan hanya merasa memiliki organisasi ketika ingin mengkritik, tetapi tunjukkan rasa memiliki tersebut dengan ikut merawat dan memperjuangkannya.

Pada akhirnya, pelantikan ini merupakan titik awal untuk menentukan bagaimana kepengurusan PC-FKMA As’adiyah Makassar periode 2026–2027 akan dikenang. Harapan saya, kepengurusan ini tidak hanya meninggalkan catatan program kerja, tetapi juga ikatan emosional yang kuat, perkembangan intelektual, dan dampak nyata bagi organisasi dan As'adiyah maupun Masyarakat langsung. Menjadi keluarga tanpa kehilangan profesionalisme berarti menjaga persaudaraan tanpa membenarkan kelalaian, menjalankan amanah tanpa kehilangan kepedulian, dan menyadari bahwa keberlangsungan organisasi bukan hanya tanggung jawab mereka yang dilantik, melainkan seluruh elemen yang mengaku menjadi bagian darinya. Rumah yang kita banggakan tidak cukup hanya dipuji dan dikritik; ia harus dirawat, diperjuangkan, dan dijaga bersama.