PDF Ulya atau yang dikenal Pendidikan Diniyah Formal Ulya As’adiyah pagi tadi  1 April 2018 menamatkan sebanyak 47 santri terdiri dari 20 putra dan 27 putri. Ahmad Rida pembina santri mengatakan bahwa penamatan tersebut untuk pertama kalinya mengingat PDF baru baru ditetapkan sebagai penyelenggara pendidikan oleh kementerian Agama RI.

Pendidikan PDF Ulya sendiri hanya ada 2 disulawesi selatan dari jumlah 14 yang tersebar di Indonesia dan baru baru ini Dirjen Pendidikan Islam mengeluarkan surat edaran bahwa PDF Pendidikan Diniya Formal disetarakan dengan tingkat pendidikan Aliyah jadi otomatis lulusan PDF sama statusnya dengan lulusan Aliyah.

Gurutta KH. Nurdin Martan S.Ag selaku Kepala Sekolah madrasah lanjut mengungkapkan bahwa sementara ini jumlah santri yang masi menempuh pendidikan sebanyak 91 putra putri dan penerimaan santri baru tahun ini dibatasi hanya 30, ini untuk menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan ilmu agama Islam yang handal. PDF sendiri berbeda dengan pendidikan yang lain di istilakan oleh kementeri agama tafaqquh fiddin yang betul betul mendalami ilmu agama secara menyeluruh.

Mewakili kepala kantor kementerian Agama Kabupaten Wajo Drs.KH.M. Idman Salewe M.T.Hi menyarankan kepada orang tua santri setelah kelulusan ini agar pendidikannya dilanjut kembali ke jenjang pergururan tinggi di Ma’had Aly guna mencetak generasi Ulama.

Acara dilanjutkan dengan nasehat umum pimpinan pengurus pondok pesantren As’adiyah AG.Drs.KH. Muhammad Sagena MA., sebagai orang tua patut berbangga karena kelulusan anak anak kita di pesantren PDF As’adiyah merupakan kehormatan bagi orang tua sendiri. Dan sebagai orang tua harus benar benar ikhlas dan memberi kepercayaan kepada guru madrasah untuk membina anak anak kita. Gurutta juga mengingatkan bagi santri agar berhati hati dalam penggunaan teknologi sekarang ini, karena dizaman ini banyak sekali infomasi tersebar yang tidak sesuai atau hoax dan hoax ini sebenarnya fitna yang sudah ada sejak kepemimpinan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga akhirnya pada masa itu ada perpecahan antar kaum muslimin.

Di akhir acara ditutup dengan doa oleh AG.Drs.KH. Muh. Syuaib Nawang.