Sabtu, 23-05-2026
  • Selamat datang di situs Pondok Pesantren As'adiyah Pusat Sengkang | Telah dibuka Pendafatan Santri Baru Tahun Pelajaran 2024/2025 untuk info selengkapnya silahkan visit psb.asadiyahpusat.org

Khutbah Idul Adha 1447/2026: Kurban, Ketaatan dan Solidaritas (Oleh Gurutta Nurdin Maratang)

Diterbitkan : - Kategori : Berita

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدًا سَعِيْدًا، وَأَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِالْقُرْبَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وقال ايضا: اِنَّا اَعْطَيْنَاكَ اْلكَوْثَرَ- فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ- اِنَّ شَانِئَكَ هُوَاْلاَبْتَرُ.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah,

Hari ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil membelah angkasa, menyatukan hati jutaan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Kita berdiri di hari yang mulia ini, merayakan Hari Raya Idul Adha, atau yang sering kita sebut sebagai Hari Raya Kurban.

Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan ternak, bukan pula ajang seremonial tahunan. Di balik setiap tetesan darah hewan kurban yang mengalir, ada kisah abadi tentang cinta, kepatuhan, dan pengorbanan yang tak tertandingi dari Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam dan putranya, Ismail ’alaihissalam.

Jamaah yang Berbahagia,

Bayangkan sekian ribu tahun lalu, di bukit Qurban yang sunyi di kawasan Mina, seorang ayah yang telah menanti kehadiran seorang anak selama puluhan tahun—Nabi Ibrahim—harus memeluk putranya Ismail. Bukan untuk dimanja, melainkan untuk direbahkan di atas batu, siap menjalankan perintah Allah untuk disembelih.

Pernahkah kita membayangkan apa yang bergejolak di dada seorang ayah saat itu? Ketika pisau sudah menyentuh leher sang anak, Nabi Ismail berbisik lirih:

“Wahai ayahku… tajamkan pisaumu, dan balikkan wajahku agar engkau tidak melihat air mataku, sehingga engkau tidak ragu untuk menjalankan perintah Allah…”

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Jamaah yang Dirahmati Allah

Jika kita merenungkan situasi dunia saat ini—di tahun 2026—kita menyadari betapa cepatnya perubahan terjadi. Teknologi semakin canggih, kehidupan bergerak begitu cepat, namun di sisi lain, kita juga menyaksikan berbagai ujian kemanusiaan, mulai dari krisis ekonomi, konflik global, hingga pudarnya rasa empati antar sesama.

Di sinilah momentum Idul Adha hadir sebagai “kompas moral” bagi kita. Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan kita tiga esensi utama yang sangat kita butuhkan hari ini:

  1. Totalitas Ketaatan kepada Allah (Al-Inqiyad)

Ketika Allah menguji Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail, tidak ada keraguan sedikit pun di hati beliau. Mengapa? Karena Nabi Ibrahim memandang perintah Allah dengan kacamata keimanan, bukan logika kemanusiaan yang lemah.

Di era modern ini, ujian kita mungkin bukan menyembelih anak, melainkan “menyembelih” ego kita. Mampukah kita menyembelih sifat kikir kita? Mampukah kita menundukkan nafsu serakah, kesombongan, dan keinginan untuk saling menjatuhkan demi mengejar dunia? Kurban mengajarkan kita untuk menomorsatukan Allah di atas segalanya.

Kurban adalah tentang cinta yang berserah. Namun hari ini, mari kita berkaca pada diri kita masing-masing. Akhir-akhir ini, kesibukan dunia telah membuat hati kita mengeras bagai batu.

Hari ini kita menyembelih hewan kurban, tetapi sadarkah kita, bahwa yang Allah minta sebenarnya adalah menyembelih keakuan kita, menyembelih kesombongan kita?

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Mari kita tengok ke dalam rumah kita. Tengoklah wajah ayah dan ibu kita, jika mereka masih hidup. Berapa kali kita telah mengorbankan perasaan mereka demi ego kita? Berapa kali air mata mengalir dari mata tua mereka karena ucapan kasar kita, karena keengganan kita untuk mendengarkan mereka?

Bagi kita yang hari ini masih bisa bersimpuh di kaki ibu dan ayah kita setelah shalat ini… demi Allah, kalian adalah orang-orang yang paling beruntung. Tatap mata mereka yang mulai rabun. Pegang tangan mereka yang mulai keriput dan gemetar. Tangan itulah yang dulu menyuapi kita, tangan itulah yang siang malam menengadah ke langit, memohon kepada Allah agar kita menjadi anak yang sukses.

Namun, bagaimana dengan kita yang hari ini duduk di barisan shalat ini, sementara ayah atau ibu kita telah terbaring sunyi di bawah gundukan tanah? (Jeda 2-3 detik)

Mereka yang telah tiada, tidak lagi butuh pakaian baru kita. Mereka tidak bisa lagi ikut mencicipi daging kurban kita. Hari ini, di alam barzakh, roh mereka mungkin sedang menengok ke tempat ini, menanti satu hal: “Apakah anakku hari ini akan mendoakan aku? Nellau doangemokaga ro anaku iyae essoe?,  Apakah anakku mengingatku di hari raya ini? Dettogaro anakku nallupaina, nasaba denagaga risesena”

  1. Keikhlasan dan Komunikasi dalam Keluarga

Pelajaran berharga juga datang dari dialog antara ayah dan anak. Nabi Ibrahim tidak langsung mengeksekusi perintah itu dengan otoriter. Beliau bertanya kepada Ismail:

يَا بُنَيَّ اِنِّي أرَي فِي اْلمَنَامِ أنِّي أذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَا ذَا تَرَي

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. As-Saffat: 102)

Dan jawaban Ismail sungguh menggetarkan semesta:

يَا أبَتِ اِفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي اِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ini adalah potret keluarga Qur’ani. Hubungan yang dilandasi ketakwaan melahirkan anak yang salih dan patuh lagi sabar. Di zaman digital di mana komunikasi keluarga sering kali terputus oleh layar gawai, pada sibuni maHP, anak pegang HP, Ibu pegang HP, Ayah pegang HP denagaga sijampangi, hilanglah komunikasi dalam keluarga. Kisah ini mengingatkan kita untuk membangun kembali dialog yang penuh kasih dan iman bersama anak dan istri dalam keluarga kita.

  1. Solidaritas Sosial dan Kemanusiaan

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak butuh daging atau darah kurban kita. Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَي مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Hewan kurban yang kita sembelih hari ini adalah simbol kepedulian sosial. Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Melalui kurban, Islam menghapus sekat antara si kaya dan si miskin. Hari ini, semua orang harus tersenyum, semua orang harus merasakan kenikmatan yang sama. Idul Adha memanggil kita untuk lebih peka terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang kelaparan, yang kehilangan pekerjaan, dan yang sedang tertimpa musibah.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah,

Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit sosial. Jangan biarkan ibadah kurban kita hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Mari kita tingkatkan kualitas takwa kita, kita perbaiki hubungan keluarga kita, dan kita perluas kepedulian sosial kita kepada sesama.

Mari kita manfaatkan sisa umur yang singkat ini. Kehidupan dunia ini menipu. Harta yang kita kejar, jabatan yang kita banggakan, semuanya akan kita tinggalkan. Pada akhirnya, kita semua akan menyusul mereka, terbujur kaku di dalam kain kafan yang putih, tak membawa apa-apa selain amal dan ketakwaan.

Jika hari ini kita masih memiliki dendam dengan sesama, runtuhkanlah ego itu. Jika hari ini kita masih memutus silaturahmi dengan saudara kandung hanya karena urusan warisan atau harta dunia, ketahuilah bahwa dunia ini terlalu murah untuk ditukar dengan murka Allah.

Di akhir khutbah ini, mari kita tundukkan kepala, merendahkan hati di hadapan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kita doakan diri kita, keluarga kita, bangsa kita, dan seluruh umat Islam di dunia agar senantiasa diberikan kedamaian, kekuatan, dan keberkahan.

Ya Allah, ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para pemimpin kami. Karuniakanlah kepada kami keikhlasan seperti keikhlasan Nabi Ibrahim, dan ketaatan seperti ketaatan Nabi Ismail.

Ya Allah, berkahilah hewan kurban yang kami sembelih hari ini. Jadikanlah ia sebagai saksi ketakwaan kami di hadapan-Mu kelak, dan jadikanlah ia wasilah penyembuh bagi penyakit-penyakit di dalam dada kami.

Ya Allah, limpahkanlah kedamaian dan kesejahteraan untuk bangsa kami tercinta. Jauhkanlah kami dari bencana, perpecahan, dan permusuhan. Satukanlah hati kami dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan kemanusiaan.

Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada saudara-saudara kami yang sedang tertindas dan mengalami kesulitan di berbagai belahan dunia. Angkatlah penderitaan mereka dan berikanlah kemerdekaan serta kedamaian yang hakiki.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Link dokumen dapat di download di sini

(nm)

Pengumuman

Agenda

Pondok Pesantren As’adiyah

JL. Masjid Raya No. 100 Sengkang 90941, Sulawesi Selatan Kab. Wajo, Indonesia

0853 3344 4993

info@asadiyahpusat.org

www.asadiyahpusat.org