Tak terasa sudah empat hari kepergian Anregurutta Prof.Dr.H.M. Rafii Yunus Martan. MA., atau dikenal dengan sapaan GURUTTA RAFII dikalangan Pesantren dan Masyarakat Wajo. Berikut ini sosok Anregurutta dimata Prof.Dr. Hamka yang admin ambil di  grop WA pasca muktamar.

Tulisan Prof. Dr. Hamka.

Assalaikum War. Wab.

In Memoriam Prof.AG.Dr.H.M.Rafii  Yunus Martan, MA.

Sayabaru mengenal Prof.Ag.Dr.H.Muhammad Rafii Yunus Martan, MA (disingkat Prof. Rafii Yunus) pada tahun 1977, ketika saya sedang mempersiapkan skripsi penyelesaian studi S1 (Drs) di Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makassar.  Pihak Fakultas menunjuk beliau sebagai konsultan saya. Beliau baru saja pulang dari Amerika menyelesaikan studi S2 (MA) di Mc Gill University Canada.  Kesan pertama saya tangkap ketika bertemu pertama kali dengan beiau, ialah beliau berilmu tinggi tapi tidaklah angkuh. Beliau dalam membimbing, memperlakukan saya seperti layaknya teman, membuat saya tidak sungkan berbicara dengan beliau, bahkan kadang beliau sendiri yang menjemput saya di Asrama Gappembar (Asrama Mahasiswa Barru), dengan menggunakan skuternya sendiri.

Saya mungkin merupakan mahasiswa pertama yang diminta menerapkan transliterasi (penulisan teks Arab ke dalam aksaran latin) menurut sistem Amerika, maklum waktu itu belum ada sistem transliterasi yang baku dari Kementerian Agama dan Diknas.  Beliau juga mengoreksi terjemahan saya dari teks-teks Inggeris yang saya kutip dari buku-buku Ahmadiyah yang menjadi fokus penelitian saya waktu itu.

Melihat tulisan Arab saya kurang bagus, maka beliau pun rela menuliskan teks-teks Arab yang saya kutip dalam skripsi yang berjudul Ahmadiyah Qadiyan menurut Pandangan Aqidah Islam.  Bahkan ketika melihat hasil ketikan skripsi dengan mesin ketik tua yang saya miliki, beliaupun mengambil alih mengetiknya sendiri dengan mesin ketik IBM bawaannya dari Canada. Pokoknya, saya seperti dimanja oleh beliau, sang pembimbing skripsi itu.

Selesai studi dan dengan predikat Doktorandus (Drs.), saya kembali ke tugas sebagai PNS, sebagai Kepala Madrasah Aliyah Swasta Mamuju.  Saya pun kurang mengikuti lagi perjalanan pengabdian Guru ku itu, hanya mendengarnya sayup-sayup dari jauh, bahwa beliau diangkat jadi Sekretaris Fakultas, dan kemudian menjadi Wakil Dekan.  Sampai saya melanjutkan studi S2 dan S3 di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1986-1990, berita keberangkatannya ke Amerika melanjutkan studi S3 (Doktor), pun terlambat saya terima.

Begitulah, ketika saya selesai studi S3, dan kembali langsung  menegabdi di Fkultas Ushuluddin di IAIN Alauddin Makassar, !991 Guruku Prof.Rafii belum balik dari studi S3-nya di Amerika.

Sepulang dari Amerika, beliau dipecaya menjadi Ketua Jurusan Tafsir Hadits 1994, ketika saya menjabat Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin.  Saya sebenarnya merasa sungkan, karena para ketua jurusan termasuk beliau berada di bawa kordinasi saya sebagai Wakil Dekan bidang akademik. Namun saya kagum pada beliau Guruku Prof.Rafii Yunus, beliau menghargai saya, muridnya, anak bimbingannya, yuniornya. Sampai saya menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin tahun 1998, sikapnya mengargai saya sebagai murid yang menjabat Dekan tetap tidak berubah.  Beliau memperlakukan saya sebagai adiknya, dan saya pun menganggap beliau sebagai Guru dan kakak saya.  Sewaktu-waktu beliau masuk ke ruang kerja saya, ngobrol ilmiyah, dan kadang keluar sama-sama cari makan.   

Jabatan Ketua Jurusan Tafsir Hadits kemudian dilepas ketika Guruku Rafii Yunus menjabat Asisten Direktur Pasca sarjana bidang akademik (1995-2003).  Naluri ilmiyahnya semakin bergelora, sejalan dengan keahliannya soal komputer, beliau memiliki banyak program tafsir, hadits, dan studi Islam lain.  Beliau pernah menginstal ke komputer saya ensiklopedi Encarta, dua CD, yang sampai sekarang masih saya gunakan sebagai rujukan.  

Ketika saya ditunjuk oleh Jend.Purn.M.Jusuf menjadi Sekretaris Al-Markas Makassar, mendampingi Sekretaris Umum Prof.Anwar Arifin, dan Ketua Harian H.M.Jusuf Kalla, saya memohon kepada Guruku Rafii Yunus untuk menjadi Imam Besar Al-Markaz (1998), menggantikan AGH DR Hc.Sanusi Baco yang sedang menjabat Ketua Umum MUI Sul-Sel waktu itu.  Alhamdulillah, beliau bersedia. Beliau ulama yang tidak mau turut dalam persoalan-persoalan khilafiyah, bahkan selalu mencari titik temunya.   Al-Markaz memperoleh berkah dari beliau, sebagai ulama intelektual dan intelek ulama, yang piawai dalam ilmu-ilmu agama, mahir berkhotbah dan jadi Imam sholat, dan talenta dalam hal komputer yang sedang dikembangkan di Al-Markaz.  Jabatan sebagai Imam Besar kemudian dilepas karena kesibukannya sejak terpilih sebagai Ketua Umum PB As’adiyah yang berpusat di Sengkang WAjo.

Ketika saya memilih bergabung ke PDI Perjuangan mengabdi bersama Ibu Hj. Megawati Sukarnoputri, banyak teman yang mencemooh saya, namun Guruku Rafii Yunus justru mensupport dan memberi semangat. Pada tahun 2009, saat saya kampanye keliling di Sul-Sel, saya sempat mampir di Pondok Pesantren As’adiyah yang dipimpinnya, beliau bersama isterinya menyambut saya dengan hangat, bahkan sempat memberi hidangan di malam itu.

Ketika saya lebih banyak di Jakarta sejak terpilih menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan, dan beliaupun sudah berdiam di Sengkang, kami amat jarang bertemtu, kecuali via medsos.  Seingat saya, pernah sekali bertemu, tanpa disengajakan, sama-sama bersholat Jumat di Al-Markaz, sempat selfi berfoto bersama, namun lupa di file mana foto itu saya save.

Banyak kenangan dengan Guruku Prof.AG, Dr. H.M.Rafii Yunus, MA.  

Kini engkau Guruku telah pergi meninggalkan kami, Selamat Jalan Guruku, Saya yakin engkau Husnul Khotimah, sebagai Ulama pewaris Nabi.  Banyak keluargamu, rekan, sahabatmu, murid-muridmu, santrimu dan umat yang engkau tinggalkan berduka menetskan air mata atas kepergianmu, namun saya yakin engaku tersenyum menerima takdir Allah untuk kembali kepada-Nya.

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN.