Moderasi Islam: Mengembalikan Citra Islam Rahmat

Oleh: Saddam Husain Amin, S.Pd.I., M.A.

Sikap tatthurruf (ekstrem) atau berlebihan dalam agama dapat dilaihat sevara nayata pada sikpa kelompo khawarij. Khawarij menandai terbentuknya fenomena takhirisme dalam Islam yaitu perumusan suatu doktrin pengafiran yang mereka percayai berasal dari ajaran Alquran. Suatu doktrin yang menyebabkan seorang muslim dapat dianggap kafir bahkan lebih dari itu darahnya halal akibat pemberian status kafir itu.

Paham kharij yang mengadosi ekstrimisme dan takfirisme ini kemudian terus masih tunbuh berkembang dari masa-masa kemasa. Paham ekstrimis ini semakin mendapatkan ruang teruatam saat terjadinya arab spring.

Perkembangan Arab spring belakang ini merupakan peristiwa mutakhir yang sayangnya justru yang memperpoarah kecenderungan ektrimisme dan takhirisme di negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Suriah. Demokratisasi yang lahir dari Arabsprim ini, seolah-olah membuka oatk Pandora yang memungkinkan kelompok-kelompok ekstrim Islam yang tadinya tertahan oleh otoritarianisme yang berkuasa mendapatkan ruang untuk berkembang bebas

konflik terjadi mewarnai dunia sehingga memunculkan stigma negatif mengenai pelaku kekerasan yang menganggap itu dilakukan oleh umat Islam sebagai tersangka karena pemahaman parsial bahwa teroris dan kekerasan adalah ajaran Islam. Apalagi anggapan itu sudah mengakar dan menyebabkan citra buruk Islam di mata orang-orang yang ingin mengenai Islam lebih dalam. Seluruh agama datang menginginkan kedamaian bagi pengikut-pengikutnya tak terkecuali Islam sebagai agama yang mulia.

Anggapan mengenai Agama Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan memang telah menjadi problem yang membutuhkan perhatian krusial sehingga dibutuhkan suatu ide untuk memecahkannya dengan melihat secara objektif dari ajaran Islam.

Untuk itulah Term Islam wasatiyah dianggapo sebagai inpirasi  yang menadji bahan kajian para cendikain muslim untuk menkanter gerakan ektrimis dan takfirisme yang engoyak perdamian di negeri-negeri Muslim. Pengutan isam wasatiyah adalah upaya penydaran ummat kan penting bersakap moderat dan tidak tattahrruf (berlebihan) dalam mejalankan agama.

Konsep wasathiyyah dalam beberapa literatur keislaman ditafsirkan secara be– ragam oleh para ahli. Menurut al-Salabi kata wasathiyyah memiliki banyak arti. Pertama, dari akar kata wasth, berupa dharaf, yang berarti baina (antara). Kedua, dari akar kata wasatha, yang mengandung banyak arti, diantaranya: (1) berupa isim (kata benda) yang mengandung pengertian antara dua ujung; (2) berupa sifat yang bermakna (khiyar) terpilih, terutama, terbaik; (3) wasath yang bermakna al-‘adl atau adil; (4) wasath juga bisa bermakna sesuatu yang berada di antara yang baik (jayyid) dan yang buruk (radi’).

Prof. Annamarie Schimmel dalam ceramahnya di Harvard University tahun 2002 pernah menyatakan bahawa Islam biasanya diperlakukan dengan agak buruk karena sebagian besar sejarawan agama dan mayoritas orang pada umumnya lebih melihatnya sebagai agama primitif yang selalu berhubungan dengan hukum. Namun mengutip pendekatan ahli fenomenologi agama antara lain Gerard van Der Leeuw, Schimmel menunjukkan bahwa sesungguhnya Islam sebuah agama yang tak kurang berorientasi pada cinta kasih.

Rahman rahim yang menjadi pembuka surah dalam Alquran, Tuhan menyebut dirinya dengan dua kata yang sama berakar dari kata rahma (kasih sayang) yang memiliki arti Tuhan menyayangi makhluknya tanpa terkecuali dengan semua bekal yang memungkinkannya hidup bahagia dan kasih sayang khusus berupa petunjuk bagi manusia yang menapaki jalan-Nya. Muhammad sebagai nabi umat Islam pun adalah nabi yang disebut Tuhan sebagai manusia yang berakhlak agung karena cinta dan kasih sayang-Nya kepada manusia bahkan Tuhan sendiri memfirmankan bahwa sesungguhnya Dia menciptakan manusia agar manusia itu belajar kembali mencintai-Nya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *