
Riwayat penggunaan aksara Lontara dalam lingkungan Pesantren As’adiyah sudah melewati masa yang panjang. Sejak tahun 1953 sampai sekarang, penggunaan aksara Lontara di Pesantren ini mengalami pasang surutnya
Di kalangan para santri, aksara Lontra digunakan untuk mencatat arti suatu kata atau kalimat dalam buku (berbahasa Arab) yang sedang mereka pelajari, apakah di dalam kelas, atau di dalam pengajian khalaqah. Pada tahun 50-an sampai dengan 60-an, bahasa pengantar yang digunakan dalam kelas adalah bahasa Bugis, demikian juga dalam pengajian khalaqah di masjid sesudah shalat magrib dan sesudah shalat shubuh.
Penggunaan aksara Lontara dalam masyarakat yang merupakan daerah “pengaruh” Pesantren As’adiyah menjadi sangat penting pada tahun 60-an sampai 80-an, ketika buku-buku karangan almarhum AGH. M. Yunus Martan dalam bahasa Bugis, dicetak menggunakan huruf-huruf Bugis terbuat dari timah, yang dibeli dari Jakarta, dibuat di negeri Belanda. Tapi huruf-huruf ini hanya digunakan beberapa tahun, karena dalam kebakaran besar di Sengkang tahun 1971, seluruh bangunan percetakan beserta seluruh isinya ikut terbakar. Selain dari pada itu, Risalah As’adiyah yang mulai terbit pada tahun 1970, beredar di Kabupaten Wajo, Soppeng, Bone, Sidrap, Pinrang, Polmas, Barru, Pangkep, Bantaeng, dan Bulukumba. Majallah ini memuat artikel-artikel keagamaan berbahasa Bugis, dan ditulis dengan aksara Lontara bercampur aksara Arab dan Latin.
Dalam praktik penulisan aksara Lontara itu, khususnya dalam Risalah As’adiyah, sering digunakan tanda-tanda tertentu untuk mewakili bunyi tertentu, walaupun tidak digunakan secara konsisten, dan hanya sewaktu-waktu dianggap perlu. Misalnya bunyi huruf mati, diletakkan tanda __ A di atas huruf bersangkutan (tanda __E yang dibalik), sedang untuk bunyi shaddah (dobel) digunakan tanda __W di atas huruf bersangkutan (meminjam dari tanda shaddah bahasa Arab). Misal kata Abbas, ditransliterasi ke dalam aksara Lontara dengan abWsA.
Awal bulan Desember 2010, sekretaris saya, Musdawi secara iseng mencoba membuat suatu huruf khusus untuk dirinya. Tapi yang ditemukannya dari internet adalah software pembuat huruf (FontCreator). Maka serta merta ia menyampaikan niatnya untuk membuat fonts Bugis, yang sangat saya dukung. Maka setelah mempelajari font BugisA cipataan Bapak Andi Alifian Mallarangeng dan membanding dengan beberapa fonts Bugis yang dapat ditemukan di Google, (sayang, kami tidak dapat mengakses font yang dibuat di Unhas), maka Musdawi mula-mula membuat gambar-gambar huruf melalui software Corel Draw X4 dan Adobe Photoshop 7.0. Berdasarkan tulisan Bapak Yusring S. Baso di harian Tribun Timur beberapa hari lalu bahwa dasar dari huruf-huruf Lontara adalah bentuk ketupat segi empat, yang diwakili oleh huruf s, maka Musdawi lalu mengolah semua huruf yang telah digambar, ditambah dengan berbagai symbol dan tanda-tanda baca khusus yang digunakan selama ini di kalangan Pesantren As’adiyah.
Dalam paket font ini juga termasuk angka-angka yang diambil dari font Times New Roman, dan beberapa symbol lainnya yang mungkin diperlukan. Untuk alasan kemudahan menggunakannya (practicality) kami belum memikirkan untuk membuat angka-angka dan simbol-simbol Bugis lainnya.
Sejak beberapa tahun lalu, niat untuk menerbitkan kembali Risalah As’adiyah telah mencuat, walaupun sampai sekarang belum sempat terwujud karena kendala dana. Begitu juga dengan desakan masyarakat untuk menerbitkan kembali buku keagamaan berbahasa Bugis karangan AGH. M. Yunus Martan semakin kuat. Maka saya telah meminta izin kepada Bapak Andi Alifian Mallarangeng untuk mengadakan tune-up terhadap font yang telah beliau ciptakan di Amerika. Namun niat terus tertunda karena kesulitan menemukan software yang digunakan membuatnya, Fontographer. Niat itu tetap membara, dan secara kebetulan dapat terlaksana berkat keisengan Musdawi.
Walaupun font yang diberi nama Lontara New Typesetting ini tujuan pertamanya adalah untuk kepentingan sendiri, namun bila ada penutur bahasa Bugis yang ingin menggunakannya, dengan penuh keikhlasan, kami mempersilahkan mengunduhnya melalui link yang telah disediakan.
Drs. H.M. Rafii Yunus Martan, M.A., Ph.D. (Pimpinan Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang)
Sabar dalam proses, lihat selengkapnya dengan cara sentuh atau kelik pada area tulisan
[pdf-embedder url=”https://asadiyahpusat.org/wp-content/uploads/2018/02/AKSARA-LONTRA-NEW-TYPESETTING.pdf”]
Tertarik menggunakan Fonts Lontara New Typesetting bisa Anda Download dengan cara klik disini cara penggunaan bisa unduh disini
Memiliki lahan yang potensial untuk pengembangan dan pemusatan pendidikan, khususnya pendidikan berbasis pondok pesantren. Untuk itu, Pondok Pesantren As’adiyah membuka peluang partisipasi umat dalam mendukung cita-cita luhur tersebut melalui Program Wakaf Produktif.
Hubungi Kami
Meriahkan Kemah Baden Powell’s Day 2025, MAS As’adiyah Putri Sengkang Raih Juara Umum
Santri MTs As’adiyah Putri Pusat Sengkang Raih Prestasi dalam Perlombaan Seni se-Kabupaten Wajo
Guru Madrasah Aliyah Putri Sengkang Raih Juara III Lomba Media Pembelajaran Tingkat Nasional
MAS As’adiyah Putri Sengkang Raih Juara 3 Pada Parade Paskibra Sekolah Tingkat SMA/SMK/MA SE-SULAWESI SELATAN di MAN Wajo
MAS As’adiyah Putra Macanang Raih Juara 3 Parade Paskibra Sekabupaten WajoPondok Pesantren As’adiyah
JL. Masjid Raya No. 100 Sengkang 90941, Sulawesi Selatan Kab. Wajo, Indonesia
