
Media Center As’adiyah – Dalam suasana yang khusyuk dan penuh keberkahan, para santri Pondok Pesantren As’adiyah berkumpul untuk mengikuti pengajian khusus yang dipimpin oleh Gurutta Muhyiddin Tahir.
Dalam penjelasannya, Gurutta Muhyiddin Tahir mengajak para hadirin untuk memahami tafsir Al-Qur’an dengan lebih mendalam. Salah satu poin yang disorot adalah mengenai penamaan surah Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat surah yang pendek dan surah yang panjang, serta surah-surah tersebut memiliki nama-nama khusus yang dikenal sebagai Jalur Riwayah.
Lebih lanjut, Gurutta Muhyiddin menegaskan bahwa penamaan surah dalam Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui proses yang disebut Bitariqih Riwayati Tauqifiyah. Proses ini mengindikasikan bahwa nama-nama surah tersebut ditetapkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sesuai dengan petunjuk dan pandangan beliau.
Salah satu contoh yang diangkat dalam pengajian adalah penamaan surah Al-Fatihah, yang dikenal juga dengan sejumlah nama lain seperti ummul kitab atau ummul qur’an. Hal ini karena surah Al-Fatihah mengandung makna utama dari keseluruhan Al-Qur’an. Gurutta Muhyiddin mengutip penjelasan dari Gurutta Prof. Nasaruddin Umar, yang menekankan pentingnya mempelajari Al-Fatihah sebagai kunci untuk memahami Al-Qur’an secara menyeluruh.
Dalam surah Al-Fatihah, terdapat berbagai aspek yang mencerminkan hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Mulai dari pujian terhadap Allah sebagai Rabbul ‘Alamin, penyembahan hanya kepada-Nya, hingga janji dan ancaman Allah terhadap hari pembalasan.
Ayat 1-3 dari surah Al-Fatihah memuat pujian kepada Allah, dengan lafadz “بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ” dan “ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ” serta “ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ”. Lafadz “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” menunjukkan penyembahan hanya kepada Allah. Sementara “مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ” mencerminkan ancaman dan janji Allah terhadap hari pembalasan, membalas baik kebaikan maupun keburukan amal seseorang.
Tidak hanya itu, surah Al-Fatihah juga disebut sebagai ashabul masani karena di dalamnya terdapat puji-pujian yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Gurutta Muhyiddin menjelaskan bahwa sanjungan kepada Allah adalah wujud pengakuan atas kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh alam semesta.
Menutup penjelasannya, Gurutta Muhyiddin juga menjelaskan bawah surah Al-Fatihah juga dianggap sebagai dasar Al-Qur’an, menjadi awal yang membangun fondasi dari keseluruhan kitab suci Al-Qur’an.
Dengan penuh kesungguhan, para santri Pondok Pesantren As’adiyah mengikuti setiap penjelasan Gurutta Muhyiddin Tahir dengan harap agar dapat menambahkan keimanan dan pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Pengajian ini bukan hanya menjadi wadah untuk menuntut ilmu, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap Al-Qur’an.(nm)
Memiliki lahan yang potensial untuk pengembangan dan pemusatan pendidikan, khususnya pendidikan berbasis pondok pesantren. Untuk itu, Pondok Pesantren As’adiyah membuka peluang partisipasi umat dalam mendukung cita-cita luhur tersebut melalui Program Wakaf Produktif.
Hubungi Kami
Meriahkan Kemah Baden Powell’s Day 2025, MAS As’adiyah Putri Sengkang Raih Juara Umum
Santri MTs As’adiyah Putri Pusat Sengkang Raih Prestasi dalam Perlombaan Seni se-Kabupaten Wajo
Guru Madrasah Aliyah Putri Sengkang Raih Juara III Lomba Media Pembelajaran Tingkat Nasional
MAS As’adiyah Putri Sengkang Raih Juara 3 Pada Parade Paskibra Sekolah Tingkat SMA/SMK/MA SE-SULAWESI SELATAN di MAN Wajo
MAS As’adiyah Putra Macanang Raih Juara 3 Parade Paskibra Sekabupaten WajoPondok Pesantren As’adiyah
JL. Masjid Raya No. 100 Sengkang 90941, Sulawesi Selatan Kab. Wajo, Indonesia
