Pondok Pesantren As’adiyah Eksis Sejak Tahun 1930, Sudah Miliki kurang lebih 500 Cabang dan banyak menelorkan banyak ulama ternama, membuat Wajo digelari sebagai Kota santri. Ya, Sengkang cukup familiar dengan sebutan Kota Santri. Keberadaan Pondok Pesantren As’adiyah, sebagai mesin pencetak para mubalig maupun ulama, itu dikenal diseantero nusantara ini. Selain melahirkan ulama, juga banyak alumninya yang jadi ilmuwan.

Bagaimana sejarahnya? Madrasah As’adiyah merupakan jelmaan dari madrasatul Arabitaul Islamiyah (MAI), resmi didirikan oleh Al-Allamah Asysyek HM As’ad pada mei tahun 1930, meski aktivitas pengajian di mulai pada tahun 1928. Penamaan As’adiyah di ambil dari nama pendirinya KH.M As’ad, dia merupakan putra pasangan H. Abd Rasyid dan Sitti Shalehah seorang ulama berdarah bugis wajo yang menetap di tanah suci Mekkah.

M.As’ad kecil sendiri lahir dan besar di tanah mekah . Awal menginjakkan kaki di tanah kelahiran kedua orangtuanya , KH.M.As’ad masih berusia sekitar 22 tahun, Karena didik dilingkungan para ulama di mekkah sehingga penguasaan ilmu pengetahuan di bidang agama sangat mumpuni , bahkan telah menghafal alquran 30 juz di usia masig tergolong belia, 14 tahun .

Wakil ketua Pengurus Besar As’adiyah Sengkang, KH Abunawas Bintang beberapa waktu lalu menceritakan sebelum menjadi Madrasatul Arabiatul Islamiah (MAI) awalnya hanya pengajian biasa dikediaman Gurutta (sapaan KH.M.As’ad oleh muridnya , red) namun semakin hari muridnya semakin banyak hingga turun ke mesjid yang sekarang bernama Menjadi Mesjid Jami di Tokampu Sengkang.

Masjid yang saat ini berdiri megah dengan dua lantai , lantai II merupakan tempat belajar MTS I Puteri As’adiyah Sengkang , dan lantai I juga ada MTS II Puteri Sengkang. Untuk mengenang sebagai penghormatan atas jasa-jasanya dalam. Pengembangan Islam di wajo , maka nama KH.M.As’ad diabadikan sebagai nama jalan ruas yang memanjang di sekitar Masjid Jami Sengkang. Di sinilah awal terbentuknya sekola bernama MAI yang tempatnya difasilitasi oleh arung matoa Wajo saat itu ada lima tingkatan kelas.

Menurut pria kelahiran kajuara-bone 1946 ini perkembangan MAI semakin hari semakin pesat , masayarakat dari berbagai pelosok daerah berbondong-bondong datang untuk belajar kesohoran KH.M.As’ad,  tidak hanya di kenal di Wajo atau di sulawesi saja sebagai tokoh ulama yang cerdas tapi juga dari daerah luar. Sehingga tidak mengherankan jika banyak yang datang dari luar provinsi seperti sumatra dan kalimantan .

Singkat cerita setelah KH.M.As’ad meninggal dunia pada tahun 1952 saat itu usianya baru menginjak usia 48 tahun. Setelah itu MAI  di nisbatkan menjadi madrasah As’adiyah , kepemimpinan beralih ke KH Daud Ismail , dia merupakan murid langsung angkatan pertama KH.M.As’ad bersama KH Abdul Rahman Ambo Dalle yang juga merupakan mantan anggota MPR RI 1982-1987 sekaligus pendiri perguruan darud da’wan wal irsyad (DDI) yang ada di pare-pare , pinrang , ponpes mangkoso di barru.

Pada tahun 1973 kota sengkang terbakar termasuk Sekolah Madrasah As’adiyah, sehingga setelah itu, pondok pesantren As’adiyah pindah ke Jalan Veteran Sengkang Kelurahan Lapongkoda pada 1966 kala itu  sampai sekarang. Saat ini, Pondok pesantren As’adiyah punya jenjang pendidikan formal untuk setiap tingkatan, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Bahkan, As’adiyah mengembangkan diri untuk penyebaran syiar islam diseluruh wilayah di Indonesia, tercatat sudah memiliki sekitar 500 cabang yang tersebar disejumlah daerah lain, seperti: Sumatera, Kalimantan, Sulbar, Sulawesi Tengah, NTT hingga Papua. (lin)

Miliki Kurikulum Khusus, Pengajian Halaqah

Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang tidak hanya menggembleng para santri dibidang agama  melalui pendidikan normal, tapi juga membina penghafal alqur’an yang dipersiapkan untuk jadi imam dan Mahad’ Aly (pengkaderan ulama) untuk jadi muballigh. Sehingga, As’adiyah memang sudah diakui sebagai mesin pencetak ulama.

Sejak berdirinya sudah menelorkan ribuan alumni, ada yang muballigh hingga imam masjid. Bahkan tidak sedikit alumni yang mendirikan pondok pesantren baru didaerah lain atau minimal jadi pembina pesantren dan banyak juga alumninya yang menjadi guru besar disejumlah perguruan tinggi islam seperti UIN Alauddin Makassar.

Selain itu, sejumlah tenaga pengajar dan guru besar di UIN Alauddin Makassar ,salah satunya adalah Prof Kamaruddin Amin, dan Anre- Gurutta Prof Dr H. Raffi Yunus Martang yang juga merupakan ketua umum PB As’adiyah,Prof Dr Karim Hafid, Dr Kamaluddin Abunawas, Dr Abustani ILyas .

KH. Abunawas Bintang mengaku, rata-rata alumni As’adiyah yang dulu-dulu kualitasnyadi akui khalayak, seperti bacaan alquran nya saat menjadi imam shalat,begitu pun juga saat jadi mubalig dari satu daerah ke daerah lain, apalagi pada saat bulan suci ramadhan, para mubalig dan imam shalat tarwih dari As’adiyah di sebar ke seluruh daerah yang ada di indonesia sesuai permintaan, bahkan pernah ada yang dikirim ke luar negeri seperti Malaysia.

“Dulu, tidak ada ulama yang tidak lahir dari rahim As’adiyah,kalaupun tidak pernah belajar secara formal di As’adiyah’ tapi minimal pernah balajar di alumninya As’adiyah ,”ujarnya .

Seperti tahun-tahun sebelumnya, disetiap momentum bulan suci ramadhan, As’adiyah selalu menyebar imam tarwih dan muballighnya yang d berasal dari berbagai tingkatan, mulai tsanawiyah/sederajat SMP, Madrasah Aliyah, Mahasiswa, Mahad ali yang dibina As’adiyah, bahkan  ada dari alumni. Khusus untuk penghafal al-qur’an, mereka di koordinir oleh pembina masing-masing di mesjid jami Sengkang.

Jumlah yang tersebar tergantung permintaan, tidak hanya di Wajo saja, tapi banyak dari luar provinsi. Jadi, selama sebulan full, tidak ada aktivitas didalam pondok pesantren, hanya masjid didalam kompleks saja yang dimanfaatkan untuk shalat lima waktu.

Ketua Panitia Ramadan Pondok Pesantren As’adiyah, Muhiddin Tahir mengatakan untuk tahun ini muballigh yang disebar ada 510 orang dan imam tarwih ada 75 orang. Selain di Wajo, juga ada disebar di Sulawesi Tenggara,  Kaltim, Kupang, hingga Irian Jaya.

Namun, ada yang unik dimiliki oleh As’adiyah yang tidak dimiliki oleh pondok pesantren lainnya, dalam proses belajar-mengajar dipendidikan formal menggunakan kurikulum khusus. Namanya, pengajian halaqah, itu dilakukan setelah shalat magrin dan setelah shalat subuh yang diajarkan dalam bahasa bugis. Itu diajarkan mulai jenjang Madrasah Tsanawiyah, Aliyah hingga Ma’had Aly.

Menurut Dr. KM. Muhiddin Tahir,  kurikulum itu ada sejak ada pondok pesantren as’adiyah, model pengajarannya, ada kitab khusus yang dibaca oleh guru dan kitab yang sama harus berada didepan semua para santri. Biasanya, pengajian Halaqah ini dilaksanakan di masjid khusus yang ditunjuk, ada enam masjid, yakni: masjid raya, masjid jami, masjid macanang dan 3 masjid di kelurahan Lapongkoda. (penulis: Nurlina Arsyad)

 

Facebook Comments