Allah Swt menciptakan kita, ummat manusia diatas muka bumi ini sebagai khalifah, yaitu manusia yang diberikan tanggungjawab atas segala sesuatu yang kita nikmati didalam kehidupan ini.

taaruf-tak-lanjut
Kita bertanggungjawab untuk menjadi manusia yang terbaik. Dan tentunya kita harus melakukan yang terbaik  didalam kehidupan ini. Semua itu sesuai dengan posisi kita masing-masing. Jika kita adalah seorang anak, maka jadilah kita anak yang terbaik bagi kedua orang tua kita, berbakti kepada mereka, jangan pernah menyakiti hatinya. Jika kita adalah seorang ibu, maka lakukanlah yang terbaik untuk anak-anak dan suami, cintai dan sayangi mereka sepenuh hati. Jika kita adalah seorang suami, maka jadilah suami yang terbaik untuk istri, dan menjadi ayah yang terbaik buat anak-anak kita, mencari nafkah dan memberikan perlindungan kepada mereka.

Akan tetapi pembaca yang budiman, dibalik semua usaha yang kita lakukan untuk menjadi hamba yang terbaik, maka kita juga perlu untuk mengintropeksi diri kita masing-masing. Kita harus kembali melihat diri kita, melihat segala hal yang sudah pernah kita lakukan kepada orang lain maupun terhadaap diri kita sendiri. Sebab belum tentu apa yang kita lakukan itu sudah baik menurut pandangan manusia, terutama menurut pandangan Allah Swt.

Begitu pentingan sikap intropeksi diri ini, sehingga didalam al-Qur’an Allah Swt., menyebutkan perintah-Nya kepada manusia untuk bertakwa bersamaan dengan perintah-Nya untuk mengintopeksi diri, memeriksa kembali diri kita, kelakuan serta sikap kita.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hasyr [59]: 18)

Didalam firman-Nya, Allah Swt dengan terang memerintahkan kepada kita untuk bertakwa kepada-Nya, Ittaqullah.. kemudian langsung dilanjutkan Waltanzur nafsummaa qaddamats ligad. (dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Ini berarti bahwa Allah Swt. Selain memerintahkan kita untuk bertakwa, juga memerintahkan kita untuk memeriksa apa yang sudah kita lakukan.

Oleh karena itu, kita perlu untuk senantiasa mengintropeksi diri, sebab dengan begitu insyaaAllah, perbuatan serta amalan-amalan yang kita lakukan bisa lebih sempurna, karena kita selalu menimbang-nimbangnya kemudian merubah apa yang perlu kita rubah, serta meningkatkan apa yang perlu kita tingkatkan.

Berikut beberapa hikmah dari Sikap Intropeksi diri yang kita lakukan:

1.  Kita bisa mengetahui kekurangan kita selaku manusia biasa.

Selaku manusia biasa, kita adalah makhlukh yang sangat lemah, makhluk yang penuh dengan kekurangan. Dan memang hal itu sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia.

الأِنْسَانُ مَحَلَّ الْخَطَاءُ وَ
النِّسْيَانُ

“Manusia itu tempatnya kesalahan dan kelupaan”.

Muhammad Bin Wasi’ berkata:

“Andaikata dosa itu mempunyai bau, niscaya tak seorang pun yang mau duduk
bersamaku”

Memang betul sekali apa yang dikatakan oleh Muhammad Bin Wasi’, sungguh dunia ini akan penuh dengan bau busuk seandainya dosa itu memiliki bau, karena didunia ini tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa, tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan. Kita semua mengaku memiliki kekurangan, hanya saja mungkin diantara kita tidak terlihat kekurangannya karea Allah menutup aib-nya.

Dengan demikian, tidak ada jalan lain selain mengintropeksi diri, agar kita tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita.

2. Menyadari posisi kita sebagai seorang hamba.

Orang yang selalu memberikan kritikan atau penilaian kepada dirinya, menimbang-nimbang perlakuannya, adalah orang yang menyadari dirinya sebagai hamba Allah yang penuh dengan kekurangan yang pastinya selalu butuh kepada ampunan Allah Swt. Dan juga ia termasuk golongan hamba Allah yang takut melakukan dosa dan kemaksiatan yang akan membuat Allah murka kepadanya lantaran ia yakin bahwa seluruh kegiatan dan aktivitasnya selalu diperhatikan oleh Allah Swt. Sesuai dengan firman-Nya:

“…Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs. An-Nisaa’
[4] :1)

3. Menuntun kita dalam mengendalikan hawa nafsu.

Hawa nafsu adalah musuh terbesar ummat manusia, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, bahwa perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu. Dan hawa nafsu ini adalah bukan musuh yang biasa-biasa saja dan tidak boleh kita pandang enteng, sebab ia ada didalam diri kita masing-masing dan selalu mengikuti kita kemanapun dan apapun kegiatan kita. Oleh karena itu banyak manusia dibuat lupa oleh hawa nafsunya. Tanpa ia sadari ia telah diperbudak oleh hawa nafsunya. Matanya dihiasi oleh nafsu duniawi sehingga terhalangi untuk memandang ayat-ayat Allah yaitu membaca al-Qur’an, justru yang ada matanya sibuk melihat hal-hal yang tidak sehaarusnya ia lihat. Nafsu juga menutupi pendengarannya sehingga ia tidak lagi mengikuti nasehat-nasehat al-Qur’an dan as-Sunnah yang disampaikan oleh para Ulama, justru ia sibuk mendengarkan gossip dimana-mana, para pemuda kita lebih senang mendengarkan musik barat yang membuatnya terlena hingga melupakan akhirantnya, na’udzubillah…

Semua ini tidak bisa kita hindari, akan selalu ada didalam kehidupan kita. Oleh karena itu kita perlu untuk memeriksa diri kita setiap saat, mengintropeksi diri setiap saat, sehingga kita bisa meninggalkan hal-hal buruk yang membuat kita jauh dari Allah, lalu kemudian kembali kejalan Allah Swt. Intropeksi diri sangat diperlukan agar kita tidak mudah melihat yang tidak boleh kita lihat dan juga tidak mudah mendengarkan apa yang tidak seharusnya kita dengar, sehingga jadilah kita hamba Allah yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Kita semua adalah mahluk Allah yang bermimpi agar bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, tentunya kita perlu mElakukan kebaikan-kebaikan, beribada kepada Allah Swt., dan yang tak kalah pentingnya adalah mengitropeksi diri kita masing-masing, apakah segala yang telah kita lakukan itu sudah sesuai dengan aturan Allah atau tidak, sehingga kita bisa merubah kesalahan kita menjadi kebaikan, dan bertaubat memohon ampun kepada Allah Swt., maka  jadilah kita manusia yang bahagia di dunia dan insyaaAllah juga bahagia di akhirat.
Aamiin…

Wabillahi Taufiq Wassa’adah. Wallahu a’lam. (Ahmad Syukur Ibnu Tepu)